Dari Malam.
Hai Ayu...
Seperti biasa, selalu ku tilik matamu, selalu saja hatiku bergumam, tak ada yg paling dalam selain matamu, tak pernah kutemukan dasar, yang ada malah menghanyutkan tapi tanpa ombak dan tanpa gemercik suara, selain teduh yang membawaku tenggelam dalam rindu. Kau tau, aku selalu mencoba membaca matamu dan ingin sekali melihat letupan di dadamu selain berucap kata malu saat ku tanya lewat mataku.
Maaf yah syng, mas selalu hawatir tentangmu bahkan selalu cemburu meski itu supir bus yg pernah kau katakan dulu...hehehe. Sekali lagi mas juga minta maaf belum bisa seberani teman²mu yg kalau rindu akan bertandang kerumahmu, memang aku pecundang dalam urusan ini. sebelumku lingkarkan cincin di jemari manismu. Mungkin mas sedikit gila meminta hal itu, tapi dengan cara itu aku bisa lebih bebas menerjemahkan setiap langkahmu, lalu kutafsirkan rindu untukku.
Ayu... selalu saja aku hawatir tentang beberapa temanmu yg masih berharap bisa mengijabmu. Dengan semua keterbatasanku, ketidakmampuanku, dan semua kesalahanku masa lalu, apa bisa membawamu berlabuh bersamaku kelak dalam bahtera. Apa kamu siap berjalan disampingku menjadi makmum buatku dan menjadi guru bagi anak anakku nnt...hehehe.
Selalulah bahagia.
Dari orang yg selalu cemas dan membuatmu kesal.
Hai Ayu...
Seperti biasa, selalu ku tilik matamu, selalu saja hatiku bergumam, tak ada yg paling dalam selain matamu, tak pernah kutemukan dasar, yang ada malah menghanyutkan tapi tanpa ombak dan tanpa gemercik suara, selain teduh yang membawaku tenggelam dalam rindu. Kau tau, aku selalu mencoba membaca matamu dan ingin sekali melihat letupan di dadamu selain berucap kata malu saat ku tanya lewat mataku.
Maaf yah syng, mas selalu hawatir tentangmu bahkan selalu cemburu meski itu supir bus yg pernah kau katakan dulu...hehehe. Sekali lagi mas juga minta maaf belum bisa seberani teman²mu yg kalau rindu akan bertandang kerumahmu, memang aku pecundang dalam urusan ini. sebelumku lingkarkan cincin di jemari manismu. Mungkin mas sedikit gila meminta hal itu, tapi dengan cara itu aku bisa lebih bebas menerjemahkan setiap langkahmu, lalu kutafsirkan rindu untukku.
Ayu... selalu saja aku hawatir tentang beberapa temanmu yg masih berharap bisa mengijabmu. Dengan semua keterbatasanku, ketidakmampuanku, dan semua kesalahanku masa lalu, apa bisa membawamu berlabuh bersamaku kelak dalam bahtera. Apa kamu siap berjalan disampingku menjadi makmum buatku dan menjadi guru bagi anak anakku nnt...hehehe.
Selalulah bahagia.
Dari orang yg selalu cemas dan membuatmu kesal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar