Seketika malam ini aku lepas kendali, ketika sunyi, dan gelapnya mulai pekat, dera angin mengajakku berdansa seorang diri. Meniti air mata, membicarakan tentang kebencianku dan tentang intonasi tinggi dengan tanda seru sebagai pengakhir kata. Serasa degup jantung adalah milikku, maka aku gunakan untuk tuangkan segala kebingasan yang terkubur sejak lama. Lama sekali.
Mengapa hanya "mengapa" yang muncul disini, di otak yang kusut ini. Adakah yang aku harapkan dari sebuah nyala lilin yang tetap diam ketika ku pandangi? Adakah setitik sinarnya membasahi masalahku pada dunia fana ini?
Oh sayang sekali sukmaku menangisi klise lama yang usang. Yang tak pernah tidur dan selalu membayangi langkah-langkahku. Seandainya saja history itu mampu ku telan saja. Seandainya...
Seandainya hitam putihku mampu ku tumpuk lagi dengan warna yang baru. Seandainya saja ia tak begitu dominan. Dan seandainya saja tak pernah ku lukis ia.
Yang berharap penantian-penantian panjang ku sudahi saja..
Karena mungkin dengan begitu, aku mampu lapangkan hati..
Atau sudahi hidupku..
Cintaku..
(By: Ayu Fatmawati)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar